Jumat, 09 Mei 2014

Tertipu Dengan Kata Ukhuwah


Kumengaung di tengah lautan mahasiswa yang memadati jalan raya. Ya, aku dan kawan-kawan sedang demontstrasi menyampaikan aspirasi masyarakat, “Hidup mahasiswa, hidup masyarakat.” Kuteriak menggema.

Kumenganggap itu salah satu cara tuk mempererat ukhuwah. Aku semakin akrab dengan teman-tema sekampus maupun dari lain kampus. Aku saling kenal dengan mereka. Kuanggap itulah ukhuwah yang harus dibina.

Beberapa tahun yang lalu juga di pojok kampus, kusedang duduk bercengkrama dengan teman-teman wanitaku, ada juga teman-teman lelaki. Kududuk dengan mereka saling menatap satu dengan yang lain, mereka menatap hidungku yang mancung dan kumenatap mata mereka yang lebar, aku dan mereka bercanda ria. Ya, namanya juga berteman, dan itu juga kumenganggap kan menumbuhkan hubungan erat di antara kami, maka akan tercipta yang namanya ukhuwah.

“Apa sih arti dari sebuah kata ukhuwah?” Tanyaku dalam hati. Pertanyaan menggiring diriku membuka kamus bahasa Arab, “Persaudaraan.” Itulah makna yang kudapati dari arti ukhuwah. 

Teman-temanku, selalu menasehatiku, bahwa penting kita hidup dalam dekapan ukhuwah. Dan cara menggapai ukhuwah pun seperti apa yang kulakukan di atas dengan teman-teman. Ah, benar-benar kata ukhuwah sangat dahsyat, tidak ada yang mendengarnya kecuali mereka menganggap itu adalah sesuatu yang baik dan terpuji. Maka, “Ayo kobarkan semangat tuk jalin ukhuwah.” Seru teman-temanku.

“Berpahala tidak kita jalin ukhuwah?” Bisikku kepada seorang teman. 

“Oh jelas berpahala, hidup itu harus ada ukhuwah di antara kita.” Jawab temanku.

“Tapi di sana juga ada yang namanya ukhuwah syaethoniah.” Kataku kepada teman.

“Apa itu ukhuwah syaethoniah?” Tanya temanku heran.

“Kemarinkan kucoba buka kamus, nah kata ‘ukhuwah’ itu artinya persaudaraan, ‘syaethoniah’ itu syaethon, jadi persaudaraan syaethon.” Terangku pada teman.

“Ah, kita itukan ukhuwah islamiah, persadaraan Islam.” Ucap temanku.

“Sob, apakah benar ukhuwah Islamiah kita, harus dibangun dengan berdemo? Apakah ukhuwah Islamiah itu harus kita bangun dengan duduk bareng dengan teman-teman cewek?” Tanyakan pada teman. Dia diam seakan mencari jawaban.

“ Ah, sob, kusemakin bingung nie, apalagi kupernah baca sebuah buku, bahwa dahulu kala kaum Anshor dan Muhajir itu sangat erat ukhuwah mereka, bahwak mereka tak tanggung-tanggung memberikan harta mereka kepada suadaranya, itu karena mereka bangun ukhuwah mereka atas dasar iman maka jadilah ukhuwah Islamiah. Pertanyaannya sob, apakah dengan berdemo menghalangi jalan itu termasuk dari iman? Bukankah serendah-rendahnya iman itu menyingkirkan kotoran dari jalan? Lah, kenapa sekarang kita yang buat jalan itu jadi polusi?” Tuturku, dan temanku masih juga diam.

“Terus, apakah dengan duduk berlawan jenis ngobrol itu juga yang namanya ukhwah Islamiah? Lalu kita mau kemanakan perintah Allah tuk menjaga pandangan? Dan kita mau kemanakan larangan bercapur baur dengan yang bukan mahram kecuali darurat? Seperti inikah ukhuwah Islamiah kita? Atau jangan-jangan kita tertipu dengan kata bahasa Arab itu?” Tanyaku membanjiri kepada temanku.

‘Senyap’ tak ada satu kata yang keluar dari mulut temanku.

“Ah, sob, mulai hari ini, saya tidak mau ikut lagi ukhuwah semacam itu, itu bukan ukhuwah Islamiah, tapi itu ukhuwah syaethoniah.” Ucapku tegas.

Gubrak, wajah temanku memerah, seakan kumenamparnya keras.

Irsun Badrun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar