Jumat, 17 Juli 2015

Pecah Isak Tangis Dengan Khutbahku

Kumelihat mata-mata mereka berkaca. Ada yang tak sanggup menahan beningnya air mata lalu keluar. Ada yang krudungnya basah dengan rinai air dari klopak mata.

"Benar-masuk ke relung hati." Ucap seorang bapak.

"Kusudah sering , mendengar ustad-ustad yang semanhaj berkhutbah, tapi kali ini benar-benar berbeda sampai masuk ke dalam hati. Padahal materi yang disampaikan tidaklah berbeda." Ucap seorang bapak yang baru balik dari Jakarta.

"Tak ada satupun yang tak menangis." Ungkap seorang ibu seusai sholat ied.

Ya,  kemarin kuberkhutbah. Dan ini bukan pertama kalinya air bening jatuh dari mata pendengar mendengar khutbahku.

Kemarin,  kutakutkan mereka dengan azab Allah bagi mereka yang lalai dari puasa.

Kusentuh hati mereka dengan anak-anak yang tak punya bapak, mama dan juga tak ada jamuan istimewa di atas meja.

Kusadarkan mereka akan nasib muslim lain yang berada di Palestina,  Suriah, Burma dan tempat-tempat yang minoritas muslim.

ya, semua itu membuat jama'ah pecah isak tangisnya. Sampai-sampai jama'ah yang duduk di dekat mimbar,  tak henti-hentinya beristigfar.

Namun,  setelah usai khutbah. Seusai kubercengkrama dengan manusia. Datanglah berita pilu,  saudara kita di Papua diusik ibadahnya.

Kalaulah itu terjadi sebelum aku berkhutbah,  mungkin fokus khutbahku tertuju pada mereka. Kuakan bangkitkan semangat jama'ah untuk peduli dengan mereka. Kujuga akan beritahu pada mereka,  bahwa kita sekarang bak buih yang terombang-ambing di lautan,  karena terlalu cinta dunia dan takut mati.

Sebenarnya bukan toleransi yang salah,  tapi karena kita sudah lemah dan taringnya sudah tertimbun kelalaian-kelalaian akan sholat. Karena orang yang semakin cinta dengan dunia dan takut mati,  maka sholatnya pun asal-asalan dan bahkan tak sholat dan meninggalkan jama'ah di masjid.

Irsun Badrun

Sragen 02 Syawal 1436 H

Jumat, 19 Juni 2015

Merubah Tradisi Yang Mengakar

Di sebagian masjid kamu akan dapati jama'ah berteriak dengan beberapa zikir setelah usai dari dua rakaat, empat rakaat, atau delapan rakaat sholat tarawih. Dan yang lebih parah, adalah zikir-zikir yang tak jelas dari mana datangnya.

Hal demikian, terjadi juga di masjid yang kutinggal dekat dengannya. Suara gaduh dengan zikir itu sudah turun temurun mereka lakoni.

Hatiku gelisah, rasa tak enak, karena kutahu hal itu tak pernah dilakukan Rasulullah.

Keesokan hari seusai sholat subuh, kunaiki mimbar, dan kemudian kuceritakan bagaimana sholat tarawih pertama kali dilaksanakan, sampai-sampai suaraku lantang dan mengatakan hal itu tidaklah pernah ada contoh dari Rasulullah maupun para sahabat.

Di atas mimbar, kumelihat para jama'ah melongo, mungkin karena mereka merasa tersinggung atau apa, namun yang jelas, kupernah menyampaikan bagaimana sikap kita terhadap Rasulullah dan juga perintah dan larangannya. Akhir dari pidato itu, kukatakan, "Ya Allah saksikanlah, hari ini telah kusampaikan, jika di akhirat kelak aku ditanya kenapa mereķa masih melakukan, maka aku berlepas diri."

Selesai berpidato, para jama'ah pun menanyakan hal itu, dan dengan hati-hati kucoba menjawan dengan bijak.

Siang hari setelah kuberkhutbah, kumengumpulkan zikir-zikir dan doa yang pernah dibaca Rasulullah seusai witir.

Zikir-zikir itu kukumpulkan dalam satu lembar juga kusertai zikir yang lain beserta keutamaannya kemudian kucoba laminating dengan jumlah 20 lembar.

Ketika malam tiba dan waktunya sholat tarawih, kunaiki mimbar lagi dan memperingatkan mereka akan hal yang tak pernah dilakukan Rasulullah termasuk salam-salaman dengan sholawat seusai salam.

Kusampaikan pada mereka, bahwa perkara ibadah adalah peekara otiriternya Allah dan Rasulnya, tidak patut bagi seorang hamba membuat tata cara ibadah yang baru yang tak pernah ada kabar dari Allah dan Rasulnya.

Kemudian kubagikan lembaran-lembaran yang sudah dilaminating dan mengajarkan mereka bagaimana zikir dan doa Rasulullah seusai witir.

Kujuga sampaikan, bahwa berzikir dengan zikir yang lain juga doa yang lain adalah boleh, asal dilakukan sendiri-sendiri.

Setelah lembaran dibagikan kukatakan, "Insya Allah zikir ini kita baca bersama-sama setelah witir, dan apabila sudah hafal semua maka kita zikir sendiri-sendiri."

Kukatakan ini karena banyak jama'ah yang belum bisa baca Qur'an dan ini adalah zikir dan doa yang baru bagi mereka.

***

Ketahuilah, merubah sebuah tradisi yang sudah mengakar dan menjamur di tengah-tengah masyarakat tidaklah mudah. Resikonya sangat besar, kalau tidak disuruh berhenti ceramah maka kamu akan diusir, maka berhati-hatilah.

Dan aku, sangat bersyukur, walau tadinya lihat ada beberapa orang yang bingung, tapi alhamdulillah kini kuberhasil merubah tradisi yang benar-benar tak ada contoh dari Rasulullah tapi dianggap ibadah termasuk salam-salaman seusai witir dengan sholawat.

Kini dua malam kita lalui tanpa tradisi salah lagi.

Alhamdulillah bini'matihi tatimmussholihat.

Akhukum

Irsun Badrun

Manyaran 03 Ramadhan 1436 H/ 20 Juni 2015

Selasa, 19 Mei 2015

Suara Hati Untuk Muslim Rohingya





Duhai yang masih mempunyai hati. Duhai yang masih bangga Islam sebagai agamanya. Tidakkah kamu melihat saudaramu dari Rohingya?




Coba lihat, persis sepertimu; sama-sama manusia. Lebih dari itu, mereka adalah saudaramu, saudara yang diikat dengan Islam.




Mereka tak pernah berharap kamu berada pada posisi mereka, tapi mereka sangat berharap kamu datang mengelus lembut tangan mereka.




Mereka adalah cobaan buatmu,  apakah kamu benar-benar Islam peduli?



Coba kamu lihat rambut mereka, dan mulailah hitung, sudah berapa lama mereka tak menggunaka shampo.




Coba kamu lihat kulitmu, jika kulitmu hitam berminyak karena menikmati pekerjaan, maka kulit mereka hitam berminyak karena keterasingan.




Coba kamu mendekat pada mereka, dan mulailah meraba pada perut mereka, kira-kira sudah berapa lama mereka harus menahan lapar. Apakah satu minggu, dua minggu atau bahkan berbulan-bulan?




Coba lihat pada baju mereka, apakah kamu akan menemukan tumpukan pakaian bersih? Ataukah kamu hanya menemukan pakaian kusut yang tak layak pakai?




Dan yang paling penting, coba kamu tatap dengan lembut pada kelopak mata mereka, sudah berapa banyak air mata tumpah, sudah berapa banyak air mata mengering. Siang malam, suara tangisan ibu-ibu dan anak-anak  tak dapat dibendung.




Sini, kita sama-sama bergandengan tangan. Sini, kita ulurkan sedikit senyum kita. Sini, kita tuangkan sedikit kopi untuk mereka. Ayo mari, mereka adalah saudara kita. Mereka adalah sahabat kita. Sini, kita bangun ukhuwah islamiah yang mengesampingkan nasionalisme Negara yang hanya membuat ukhuwah kita terkotak-kotak oleh sebuah kata, “Nasionalisme.”




Ya Allah, di sana mereka menangis kelaparan dan keterasingan, di sini kita menangis karena sedih nan pilu karena keadaan mereka.




Akhukum al-faqiir Ilallah
Irsun Badrun
Sragen 19 Mei 2015


Senin, 18 Mei 2015

Al-Qur'an Akan Dirubah Karena Akan Disesuaikan Dengan Budaya Nusantara

Dengan alasan melestarikan budaya lokal Nusantara, al-Qur'an dilagukan dengan Langgam Jawa.

Begitu konyol alasannya dan begitu hina pemahamannya, mereka jadikan al-Qur'an seakan di pantat mereka; al-Qur'an disesuaikan dengan budaya.

Ketika al-Qur'an diturunkan sebagai wahyu pada Muhammad, saat itu orang Arab punya budaya menyanyi, tapi lantunan al-Qur'an tidak disesuaikan dengan budaya nyanyi mereka, karena al-Qur'an kalamullah.

Al-Qur'an murni kalamullah, diturunkan pada Muhammad, dan diajarkan oleh Muhammad, dan semua pengikutnya diwajibkan membacanya dengan lahjah Arab.

Al-Qur'an datang bukan untuk menyesuaikan dengan budaya, tapi al-Qur'an datang untuk sebagai furqan; menjelekkan budaya yang jelek dan mengokohkan budaya yang baik.

Dangdut adalah budaya nusantara, apakah karena kebodohan kalian al-Qur'an akan didangdutkan juga? Mikir!

Al-Qur'an adalah kitap petunjuk, buka kitab mainan yang bisa kamu rubah sesukamu.

Hari ini kamu berpaling dari lahjah Arab yang diajarkan Rasulullah, maka ditakutkan suatu saat kamu berpaling dari al-Qur'an bahkan merubah maknanya hanya karena alasan melestarikan budaya Nusantara. Keterlaluan!

Kalau agama kamu sekuler dan liberal, bersyahadatlah dengan syahadat sekuler dan Liberal.

Perlahan-lahan, sepertinya Allah ingin menampakkan kebobrokan kalian dalam beragama.

Walau kalian pandai menipu orang, tapi Allah selamanya tak bisa ditipu, camkan itu!

Irsun Badrun

Sragen 18 Mei 2015

Jumat, 15 Mei 2015

Belajar Dari Yanti Dan Ibunya

Terlihat begitu susah, tapi mereka mengajariku, bahwa untuk senyum tak harus mewah.

Hidup mereka terlihat begitu berantakan secara visual. Pakaian acak-acakan. Rumah gubuk hampir rapuh. Prabot rumah punah, tapi mereka mengajariku, bahwa untuk tetap setia dan saling kasih tak harus hidup wah.

Orang yang hidup di samudra dengan berbagai terpaan badai membuat mereka saling berpegang erat, mungkin hampir seperti itu Yanti dan ibunya, walau keadaan begitu memojokkan mereka tapi mereka masih saling merangkul.

Listrik tak punya. Hidup sebatang kara. Umur tak lagi muda. Menghabiskan hari-hari hanya di rumah. Tak ada lagi cita-cita untuk masa depan yang cerah. Yang ada hanya bagaimana bisa tetap bersama dan menunggu waktu kematian itu tiba.

Uluran tangan tak pernah mereka harapkan, karena mereka tak pernah meminta. Belas kasihan orang tak pernah mereka cari, karena mereka tak pernah memohon. Dan disitulah kubelajar arti ketegaran walau keadaan sesulit apapun.

Ketika aku dan pak Tri mendatangi mereka pada 13 Mei 2015 kemarin. Mendapati Yanti sedang duduk di atas tanah di depan pintu, sedangkan sang ibu mencoba mencabuti rumput liar di depan rumah.

"Yanti udah tak kencing lima hari. Belum lagi ke ibu bidang. Makan pun tak. Sepertinya sariawan dan batuk." Tutur ibu ketika kami bertanya tentang kabar tentang Yanti.

Kami coba tawarkan kursi roda yang ditawarkan salah satu muhsinin. Tapi, Yanti begitu takut mendengar nama kursi roda, ia kira sama seperti motor, karena motor sangat ia takuti.

Kami mencoba berbicara dengan lembut. Memberikan motivasi. Membangkitkan jiwanya. Menumbuhkan kepercayaan dirinya.

Sambil menangis, Yanti tertati-tati berusaha tuk bangkit dan mendekati motor kami kemudian berusaha menaikinya.

Kenapa?

Ia ingin mencoa sebelum mencoba kursi roda yang tak pernah ia kenal. Sambil menangis ia naiki motor itu yang dibantu sang ibu dan pak Tri, dan bukan cuma menangis, tapi juga kencing bau yang tadinya tak pernah kencing dan kalau kencing harus menggunakan selang.

Kupelajari juga dari situ, orang sakit, tak hanya diberikan obat penyakitnya, tapi harus juga membangkitkan jiwanya. Membangkitkan semangatnya. Bangun rohaninya. Kuatkan mentalnta.

Yanti, adalah seorang anak cacat dari kecil dan semua orang enggan berbincang dengannya kecuali sang ibu. Hampir semua orang memandangnya dengan sebelah mata kecuali ibu yang memandanya dengan  utuh. Semua orang hampir menganggap ia hanyalah beban kecuali ibu yang menganggap kehadirannya adalah anugrah.

Hatinya hancur. Mentalnya rapuh. Jiwanya merana, karena kesalahan sebagian manusia yang berada di dekatnya; menganggap kehadirannya tak berarti.

Namun hari ini kusaksikan sendiri. Bagaimana dahsyatnya perkataan lembut. Bagaimana hebatnya motivasi, sampai membuat Yanti bertati dan kencing. Pada akhirnya ia mau dibelikan kursi roda.

Orang seperti Yanti tidak sendiri. Dan bahkan mungkin sekarang atau malah suatu saat keluarga kita yang seperti itu, dan jika memang seperti itu, paling tidak kita belajar dari mereka dan berusaha memberikan sentuhan lembut buat mereka, dengan doa kita, membantu mereka, membangkitkan jiwa mereka dan senyum di hadapan mereka.

Ingat! Mereka tak pernah meminta dan tak ada anjuran meminta, tapi ingat! Orang mulia akan memberi, dan kita dianjurkan untuk memberi, bukan meminta.

Irsun Badrun

Manyaran 16 Mei 2015

Selasa, 12 Mei 2015

Kamu Ada Saat Tiada

Terngiang-ngiang selalu dirimu dalam sanubariku. Senyummu selalu saja tampak jelas di kelopak mataku walau kamu begitu jauh dariku.

Kalau saja saat itu kamu hadir dengan kecantikanmu, rindu ini takkan pernah untukmu, tapi karena budi dan akhlakmu, kamu seakan menyihir sukmaku.

Wanita cantik begitu banyak, bahkan para pelacur begitu menggoda, tapi kecantikan itu tak pernah membuat jiwa bahagia, bahkan menjadikannnya makin jauh dari yang kuasa.

Kamu tahu apa yang membuat suami tanang nan bahagia? Coba sini baring di pangkuanku dan akan kubisikkan bahwa suami bahagia karena akhlak budi istri. Dan kamulah istri yang membuatku bahagia dengan itu.

Istri cantik pergi, maka masih banyak wanita cantik. Istri mulia pergi maka hendak ke mana kucari?  Susah!

Seperti itulah yang membuat kamu selalu ada walau di saat tiada, karena yang ada adalah cinta.

Irsun Badrun

Manyaran 12 Mei 2015

Senin, 11 Mei 2015

Kesederhanaan Dan Rasa

Kebahagiaan itu memiliki penafsiran yang berbeda, tergantung cara yang memandangnya. Namun bagiku, kebahagiaan begitu sangat sederhana, ya sangat sederhana.

Menikmati waktu senja dengan sepotong terang bulan di penghujung desa bersama  bidadari adalah sesuatu yang sangat berarti. Sederhana bukan?

Di sana kita berbincang masalah rasa. Rasa yang dimulai dengan kesederhanaan yang menuntut jiwa nerimo semua rasa yang bergejolak di tengah samudra pasutri.

Sangat sederhana menyulam rasa yang kian renggang di atas hamparan sawah di bawang kolong langit dan di penghujung senja.

Sang mentari pun tersenyum dengan kesederhanaan kita. Mentari selalu berdoa kepada Allah untuk kita, pasalnya, masih mengeratkan rasa dengan kesederhanaan yang ada.

Kesederhanaan ini menjadikan iblis menangis pilu. Mereka kira dengan keterbatasan mampu menggoyahkan rasa kita, ternyata tidak!

Namun yang kutakutkan, jika kesederhanaan ini berubah menjadi kemewahaan, masih mampukah kita mengeratkan rasa? Wallahu a'lam. Maka bersyukurlah dengan kesederhanaan, karena mungkin itu sebab kita masih bersama.

Irsun Badrun

Masaran 11 Mei 2015

Jumat, 17 Juli 2015

Pecah Isak Tangis Dengan Khutbahku

Kumelihat mata-mata mereka berkaca. Ada yang tak sanggup menahan beningnya air mata lalu keluar. Ada yang krudungnya basah dengan rinai air dari klopak mata.

"Benar-masuk ke relung hati." Ucap seorang bapak.

"Kusudah sering , mendengar ustad-ustad yang semanhaj berkhutbah, tapi kali ini benar-benar berbeda sampai masuk ke dalam hati. Padahal materi yang disampaikan tidaklah berbeda." Ucap seorang bapak yang baru balik dari Jakarta.

"Tak ada satupun yang tak menangis." Ungkap seorang ibu seusai sholat ied.

Ya,  kemarin kuberkhutbah. Dan ini bukan pertama kalinya air bening jatuh dari mata pendengar mendengar khutbahku.

Kemarin,  kutakutkan mereka dengan azab Allah bagi mereka yang lalai dari puasa.

Kusentuh hati mereka dengan anak-anak yang tak punya bapak, mama dan juga tak ada jamuan istimewa di atas meja.

Kusadarkan mereka akan nasib muslim lain yang berada di Palestina,  Suriah, Burma dan tempat-tempat yang minoritas muslim.

ya, semua itu membuat jama'ah pecah isak tangisnya. Sampai-sampai jama'ah yang duduk di dekat mimbar,  tak henti-hentinya beristigfar.

Namun,  setelah usai khutbah. Seusai kubercengkrama dengan manusia. Datanglah berita pilu,  saudara kita di Papua diusik ibadahnya.

Kalaulah itu terjadi sebelum aku berkhutbah,  mungkin fokus khutbahku tertuju pada mereka. Kuakan bangkitkan semangat jama'ah untuk peduli dengan mereka. Kujuga akan beritahu pada mereka,  bahwa kita sekarang bak buih yang terombang-ambing di lautan,  karena terlalu cinta dunia dan takut mati.

Sebenarnya bukan toleransi yang salah,  tapi karena kita sudah lemah dan taringnya sudah tertimbun kelalaian-kelalaian akan sholat. Karena orang yang semakin cinta dengan dunia dan takut mati,  maka sholatnya pun asal-asalan dan bahkan tak sholat dan meninggalkan jama'ah di masjid.

Irsun Badrun

Sragen 02 Syawal 1436 H

Jumat, 19 Juni 2015

Merubah Tradisi Yang Mengakar

Di sebagian masjid kamu akan dapati jama'ah berteriak dengan beberapa zikir setelah usai dari dua rakaat, empat rakaat, atau delapan rakaat sholat tarawih. Dan yang lebih parah, adalah zikir-zikir yang tak jelas dari mana datangnya.

Hal demikian, terjadi juga di masjid yang kutinggal dekat dengannya. Suara gaduh dengan zikir itu sudah turun temurun mereka lakoni.

Hatiku gelisah, rasa tak enak, karena kutahu hal itu tak pernah dilakukan Rasulullah.

Keesokan hari seusai sholat subuh, kunaiki mimbar, dan kemudian kuceritakan bagaimana sholat tarawih pertama kali dilaksanakan, sampai-sampai suaraku lantang dan mengatakan hal itu tidaklah pernah ada contoh dari Rasulullah maupun para sahabat.

Di atas mimbar, kumelihat para jama'ah melongo, mungkin karena mereka merasa tersinggung atau apa, namun yang jelas, kupernah menyampaikan bagaimana sikap kita terhadap Rasulullah dan juga perintah dan larangannya. Akhir dari pidato itu, kukatakan, "Ya Allah saksikanlah, hari ini telah kusampaikan, jika di akhirat kelak aku ditanya kenapa mereķa masih melakukan, maka aku berlepas diri."

Selesai berpidato, para jama'ah pun menanyakan hal itu, dan dengan hati-hati kucoba menjawan dengan bijak.

Siang hari setelah kuberkhutbah, kumengumpulkan zikir-zikir dan doa yang pernah dibaca Rasulullah seusai witir.

Zikir-zikir itu kukumpulkan dalam satu lembar juga kusertai zikir yang lain beserta keutamaannya kemudian kucoba laminating dengan jumlah 20 lembar.

Ketika malam tiba dan waktunya sholat tarawih, kunaiki mimbar lagi dan memperingatkan mereka akan hal yang tak pernah dilakukan Rasulullah termasuk salam-salaman dengan sholawat seusai salam.

Kusampaikan pada mereka, bahwa perkara ibadah adalah peekara otiriternya Allah dan Rasulnya, tidak patut bagi seorang hamba membuat tata cara ibadah yang baru yang tak pernah ada kabar dari Allah dan Rasulnya.

Kemudian kubagikan lembaran-lembaran yang sudah dilaminating dan mengajarkan mereka bagaimana zikir dan doa Rasulullah seusai witir.

Kujuga sampaikan, bahwa berzikir dengan zikir yang lain juga doa yang lain adalah boleh, asal dilakukan sendiri-sendiri.

Setelah lembaran dibagikan kukatakan, "Insya Allah zikir ini kita baca bersama-sama setelah witir, dan apabila sudah hafal semua maka kita zikir sendiri-sendiri."

Kukatakan ini karena banyak jama'ah yang belum bisa baca Qur'an dan ini adalah zikir dan doa yang baru bagi mereka.

***

Ketahuilah, merubah sebuah tradisi yang sudah mengakar dan menjamur di tengah-tengah masyarakat tidaklah mudah. Resikonya sangat besar, kalau tidak disuruh berhenti ceramah maka kamu akan diusir, maka berhati-hatilah.

Dan aku, sangat bersyukur, walau tadinya lihat ada beberapa orang yang bingung, tapi alhamdulillah kini kuberhasil merubah tradisi yang benar-benar tak ada contoh dari Rasulullah tapi dianggap ibadah termasuk salam-salaman seusai witir dengan sholawat.

Kini dua malam kita lalui tanpa tradisi salah lagi.

Alhamdulillah bini'matihi tatimmussholihat.

Akhukum

Irsun Badrun

Manyaran 03 Ramadhan 1436 H/ 20 Juni 2015

Selasa, 19 Mei 2015

Suara Hati Untuk Muslim Rohingya





Duhai yang masih mempunyai hati. Duhai yang masih bangga Islam sebagai agamanya. Tidakkah kamu melihat saudaramu dari Rohingya?




Coba lihat, persis sepertimu; sama-sama manusia. Lebih dari itu, mereka adalah saudaramu, saudara yang diikat dengan Islam.




Mereka tak pernah berharap kamu berada pada posisi mereka, tapi mereka sangat berharap kamu datang mengelus lembut tangan mereka.




Mereka adalah cobaan buatmu,  apakah kamu benar-benar Islam peduli?



Coba kamu lihat rambut mereka, dan mulailah hitung, sudah berapa lama mereka tak menggunaka shampo.




Coba kamu lihat kulitmu, jika kulitmu hitam berminyak karena menikmati pekerjaan, maka kulit mereka hitam berminyak karena keterasingan.




Coba kamu mendekat pada mereka, dan mulailah meraba pada perut mereka, kira-kira sudah berapa lama mereka harus menahan lapar. Apakah satu minggu, dua minggu atau bahkan berbulan-bulan?




Coba lihat pada baju mereka, apakah kamu akan menemukan tumpukan pakaian bersih? Ataukah kamu hanya menemukan pakaian kusut yang tak layak pakai?




Dan yang paling penting, coba kamu tatap dengan lembut pada kelopak mata mereka, sudah berapa banyak air mata tumpah, sudah berapa banyak air mata mengering. Siang malam, suara tangisan ibu-ibu dan anak-anak  tak dapat dibendung.




Sini, kita sama-sama bergandengan tangan. Sini, kita ulurkan sedikit senyum kita. Sini, kita tuangkan sedikit kopi untuk mereka. Ayo mari, mereka adalah saudara kita. Mereka adalah sahabat kita. Sini, kita bangun ukhuwah islamiah yang mengesampingkan nasionalisme Negara yang hanya membuat ukhuwah kita terkotak-kotak oleh sebuah kata, “Nasionalisme.”




Ya Allah, di sana mereka menangis kelaparan dan keterasingan, di sini kita menangis karena sedih nan pilu karena keadaan mereka.




Akhukum al-faqiir Ilallah
Irsun Badrun
Sragen 19 Mei 2015


Senin, 18 Mei 2015

Al-Qur'an Akan Dirubah Karena Akan Disesuaikan Dengan Budaya Nusantara

Dengan alasan melestarikan budaya lokal Nusantara, al-Qur'an dilagukan dengan Langgam Jawa.

Begitu konyol alasannya dan begitu hina pemahamannya, mereka jadikan al-Qur'an seakan di pantat mereka; al-Qur'an disesuaikan dengan budaya.

Ketika al-Qur'an diturunkan sebagai wahyu pada Muhammad, saat itu orang Arab punya budaya menyanyi, tapi lantunan al-Qur'an tidak disesuaikan dengan budaya nyanyi mereka, karena al-Qur'an kalamullah.

Al-Qur'an murni kalamullah, diturunkan pada Muhammad, dan diajarkan oleh Muhammad, dan semua pengikutnya diwajibkan membacanya dengan lahjah Arab.

Al-Qur'an datang bukan untuk menyesuaikan dengan budaya, tapi al-Qur'an datang untuk sebagai furqan; menjelekkan budaya yang jelek dan mengokohkan budaya yang baik.

Dangdut adalah budaya nusantara, apakah karena kebodohan kalian al-Qur'an akan didangdutkan juga? Mikir!

Al-Qur'an adalah kitap petunjuk, buka kitab mainan yang bisa kamu rubah sesukamu.

Hari ini kamu berpaling dari lahjah Arab yang diajarkan Rasulullah, maka ditakutkan suatu saat kamu berpaling dari al-Qur'an bahkan merubah maknanya hanya karena alasan melestarikan budaya Nusantara. Keterlaluan!

Kalau agama kamu sekuler dan liberal, bersyahadatlah dengan syahadat sekuler dan Liberal.

Perlahan-lahan, sepertinya Allah ingin menampakkan kebobrokan kalian dalam beragama.

Walau kalian pandai menipu orang, tapi Allah selamanya tak bisa ditipu, camkan itu!

Irsun Badrun

Sragen 18 Mei 2015

Jumat, 15 Mei 2015

Belajar Dari Yanti Dan Ibunya

Terlihat begitu susah, tapi mereka mengajariku, bahwa untuk senyum tak harus mewah.

Hidup mereka terlihat begitu berantakan secara visual. Pakaian acak-acakan. Rumah gubuk hampir rapuh. Prabot rumah punah, tapi mereka mengajariku, bahwa untuk tetap setia dan saling kasih tak harus hidup wah.

Orang yang hidup di samudra dengan berbagai terpaan badai membuat mereka saling berpegang erat, mungkin hampir seperti itu Yanti dan ibunya, walau keadaan begitu memojokkan mereka tapi mereka masih saling merangkul.

Listrik tak punya. Hidup sebatang kara. Umur tak lagi muda. Menghabiskan hari-hari hanya di rumah. Tak ada lagi cita-cita untuk masa depan yang cerah. Yang ada hanya bagaimana bisa tetap bersama dan menunggu waktu kematian itu tiba.

Uluran tangan tak pernah mereka harapkan, karena mereka tak pernah meminta. Belas kasihan orang tak pernah mereka cari, karena mereka tak pernah memohon. Dan disitulah kubelajar arti ketegaran walau keadaan sesulit apapun.

Ketika aku dan pak Tri mendatangi mereka pada 13 Mei 2015 kemarin. Mendapati Yanti sedang duduk di atas tanah di depan pintu, sedangkan sang ibu mencoba mencabuti rumput liar di depan rumah.

"Yanti udah tak kencing lima hari. Belum lagi ke ibu bidang. Makan pun tak. Sepertinya sariawan dan batuk." Tutur ibu ketika kami bertanya tentang kabar tentang Yanti.

Kami coba tawarkan kursi roda yang ditawarkan salah satu muhsinin. Tapi, Yanti begitu takut mendengar nama kursi roda, ia kira sama seperti motor, karena motor sangat ia takuti.

Kami mencoba berbicara dengan lembut. Memberikan motivasi. Membangkitkan jiwanya. Menumbuhkan kepercayaan dirinya.

Sambil menangis, Yanti tertati-tati berusaha tuk bangkit dan mendekati motor kami kemudian berusaha menaikinya.

Kenapa?

Ia ingin mencoa sebelum mencoba kursi roda yang tak pernah ia kenal. Sambil menangis ia naiki motor itu yang dibantu sang ibu dan pak Tri, dan bukan cuma menangis, tapi juga kencing bau yang tadinya tak pernah kencing dan kalau kencing harus menggunakan selang.

Kupelajari juga dari situ, orang sakit, tak hanya diberikan obat penyakitnya, tapi harus juga membangkitkan jiwanya. Membangkitkan semangatnya. Bangun rohaninya. Kuatkan mentalnta.

Yanti, adalah seorang anak cacat dari kecil dan semua orang enggan berbincang dengannya kecuali sang ibu. Hampir semua orang memandangnya dengan sebelah mata kecuali ibu yang memandanya dengan  utuh. Semua orang hampir menganggap ia hanyalah beban kecuali ibu yang menganggap kehadirannya adalah anugrah.

Hatinya hancur. Mentalnya rapuh. Jiwanya merana, karena kesalahan sebagian manusia yang berada di dekatnya; menganggap kehadirannya tak berarti.

Namun hari ini kusaksikan sendiri. Bagaimana dahsyatnya perkataan lembut. Bagaimana hebatnya motivasi, sampai membuat Yanti bertati dan kencing. Pada akhirnya ia mau dibelikan kursi roda.

Orang seperti Yanti tidak sendiri. Dan bahkan mungkin sekarang atau malah suatu saat keluarga kita yang seperti itu, dan jika memang seperti itu, paling tidak kita belajar dari mereka dan berusaha memberikan sentuhan lembut buat mereka, dengan doa kita, membantu mereka, membangkitkan jiwa mereka dan senyum di hadapan mereka.

Ingat! Mereka tak pernah meminta dan tak ada anjuran meminta, tapi ingat! Orang mulia akan memberi, dan kita dianjurkan untuk memberi, bukan meminta.

Irsun Badrun

Manyaran 16 Mei 2015

Selasa, 12 Mei 2015

Kamu Ada Saat Tiada

Terngiang-ngiang selalu dirimu dalam sanubariku. Senyummu selalu saja tampak jelas di kelopak mataku walau kamu begitu jauh dariku.

Kalau saja saat itu kamu hadir dengan kecantikanmu, rindu ini takkan pernah untukmu, tapi karena budi dan akhlakmu, kamu seakan menyihir sukmaku.

Wanita cantik begitu banyak, bahkan para pelacur begitu menggoda, tapi kecantikan itu tak pernah membuat jiwa bahagia, bahkan menjadikannnya makin jauh dari yang kuasa.

Kamu tahu apa yang membuat suami tanang nan bahagia? Coba sini baring di pangkuanku dan akan kubisikkan bahwa suami bahagia karena akhlak budi istri. Dan kamulah istri yang membuatku bahagia dengan itu.

Istri cantik pergi, maka masih banyak wanita cantik. Istri mulia pergi maka hendak ke mana kucari?  Susah!

Seperti itulah yang membuat kamu selalu ada walau di saat tiada, karena yang ada adalah cinta.

Irsun Badrun

Manyaran 12 Mei 2015

Senin, 11 Mei 2015

Kesederhanaan Dan Rasa

Kebahagiaan itu memiliki penafsiran yang berbeda, tergantung cara yang memandangnya. Namun bagiku, kebahagiaan begitu sangat sederhana, ya sangat sederhana.

Menikmati waktu senja dengan sepotong terang bulan di penghujung desa bersama  bidadari adalah sesuatu yang sangat berarti. Sederhana bukan?

Di sana kita berbincang masalah rasa. Rasa yang dimulai dengan kesederhanaan yang menuntut jiwa nerimo semua rasa yang bergejolak di tengah samudra pasutri.

Sangat sederhana menyulam rasa yang kian renggang di atas hamparan sawah di bawang kolong langit dan di penghujung senja.

Sang mentari pun tersenyum dengan kesederhanaan kita. Mentari selalu berdoa kepada Allah untuk kita, pasalnya, masih mengeratkan rasa dengan kesederhanaan yang ada.

Kesederhanaan ini menjadikan iblis menangis pilu. Mereka kira dengan keterbatasan mampu menggoyahkan rasa kita, ternyata tidak!

Namun yang kutakutkan, jika kesederhanaan ini berubah menjadi kemewahaan, masih mampukah kita mengeratkan rasa? Wallahu a'lam. Maka bersyukurlah dengan kesederhanaan, karena mungkin itu sebab kita masih bersama.

Irsun Badrun

Masaran 11 Mei 2015