Selasa, 19 Mei 2015

Suara Hati Untuk Muslim Rohingya





Duhai yang masih mempunyai hati. Duhai yang masih bangga Islam sebagai agamanya. Tidakkah kamu melihat saudaramu dari Rohingya?




Coba lihat, persis sepertimu; sama-sama manusia. Lebih dari itu, mereka adalah saudaramu, saudara yang diikat dengan Islam.




Mereka tak pernah berharap kamu berada pada posisi mereka, tapi mereka sangat berharap kamu datang mengelus lembut tangan mereka.




Mereka adalah cobaan buatmu,  apakah kamu benar-benar Islam peduli?



Coba kamu lihat rambut mereka, dan mulailah hitung, sudah berapa lama mereka tak menggunaka shampo.




Coba kamu lihat kulitmu, jika kulitmu hitam berminyak karena menikmati pekerjaan, maka kulit mereka hitam berminyak karena keterasingan.




Coba kamu mendekat pada mereka, dan mulailah meraba pada perut mereka, kira-kira sudah berapa lama mereka harus menahan lapar. Apakah satu minggu, dua minggu atau bahkan berbulan-bulan?




Coba lihat pada baju mereka, apakah kamu akan menemukan tumpukan pakaian bersih? Ataukah kamu hanya menemukan pakaian kusut yang tak layak pakai?




Dan yang paling penting, coba kamu tatap dengan lembut pada kelopak mata mereka, sudah berapa banyak air mata tumpah, sudah berapa banyak air mata mengering. Siang malam, suara tangisan ibu-ibu dan anak-anak  tak dapat dibendung.




Sini, kita sama-sama bergandengan tangan. Sini, kita ulurkan sedikit senyum kita. Sini, kita tuangkan sedikit kopi untuk mereka. Ayo mari, mereka adalah saudara kita. Mereka adalah sahabat kita. Sini, kita bangun ukhuwah islamiah yang mengesampingkan nasionalisme Negara yang hanya membuat ukhuwah kita terkotak-kotak oleh sebuah kata, “Nasionalisme.”




Ya Allah, di sana mereka menangis kelaparan dan keterasingan, di sini kita menangis karena sedih nan pilu karena keadaan mereka.




Akhukum al-faqiir Ilallah
Irsun Badrun
Sragen 19 Mei 2015


Senin, 18 Mei 2015

Al-Qur'an Akan Dirubah Karena Akan Disesuaikan Dengan Budaya Nusantara

Dengan alasan melestarikan budaya lokal Nusantara, al-Qur'an dilagukan dengan Langgam Jawa.

Begitu konyol alasannya dan begitu hina pemahamannya, mereka jadikan al-Qur'an seakan di pantat mereka; al-Qur'an disesuaikan dengan budaya.

Ketika al-Qur'an diturunkan sebagai wahyu pada Muhammad, saat itu orang Arab punya budaya menyanyi, tapi lantunan al-Qur'an tidak disesuaikan dengan budaya nyanyi mereka, karena al-Qur'an kalamullah.

Al-Qur'an murni kalamullah, diturunkan pada Muhammad, dan diajarkan oleh Muhammad, dan semua pengikutnya diwajibkan membacanya dengan lahjah Arab.

Al-Qur'an datang bukan untuk menyesuaikan dengan budaya, tapi al-Qur'an datang untuk sebagai furqan; menjelekkan budaya yang jelek dan mengokohkan budaya yang baik.

Dangdut adalah budaya nusantara, apakah karena kebodohan kalian al-Qur'an akan didangdutkan juga? Mikir!

Al-Qur'an adalah kitap petunjuk, buka kitab mainan yang bisa kamu rubah sesukamu.

Hari ini kamu berpaling dari lahjah Arab yang diajarkan Rasulullah, maka ditakutkan suatu saat kamu berpaling dari al-Qur'an bahkan merubah maknanya hanya karena alasan melestarikan budaya Nusantara. Keterlaluan!

Kalau agama kamu sekuler dan liberal, bersyahadatlah dengan syahadat sekuler dan Liberal.

Perlahan-lahan, sepertinya Allah ingin menampakkan kebobrokan kalian dalam beragama.

Walau kalian pandai menipu orang, tapi Allah selamanya tak bisa ditipu, camkan itu!

Irsun Badrun

Sragen 18 Mei 2015

Jumat, 15 Mei 2015

Belajar Dari Yanti Dan Ibunya

Terlihat begitu susah, tapi mereka mengajariku, bahwa untuk senyum tak harus mewah.

Hidup mereka terlihat begitu berantakan secara visual. Pakaian acak-acakan. Rumah gubuk hampir rapuh. Prabot rumah punah, tapi mereka mengajariku, bahwa untuk tetap setia dan saling kasih tak harus hidup wah.

Orang yang hidup di samudra dengan berbagai terpaan badai membuat mereka saling berpegang erat, mungkin hampir seperti itu Yanti dan ibunya, walau keadaan begitu memojokkan mereka tapi mereka masih saling merangkul.

Listrik tak punya. Hidup sebatang kara. Umur tak lagi muda. Menghabiskan hari-hari hanya di rumah. Tak ada lagi cita-cita untuk masa depan yang cerah. Yang ada hanya bagaimana bisa tetap bersama dan menunggu waktu kematian itu tiba.

Uluran tangan tak pernah mereka harapkan, karena mereka tak pernah meminta. Belas kasihan orang tak pernah mereka cari, karena mereka tak pernah memohon. Dan disitulah kubelajar arti ketegaran walau keadaan sesulit apapun.

Ketika aku dan pak Tri mendatangi mereka pada 13 Mei 2015 kemarin. Mendapati Yanti sedang duduk di atas tanah di depan pintu, sedangkan sang ibu mencoba mencabuti rumput liar di depan rumah.

"Yanti udah tak kencing lima hari. Belum lagi ke ibu bidang. Makan pun tak. Sepertinya sariawan dan batuk." Tutur ibu ketika kami bertanya tentang kabar tentang Yanti.

Kami coba tawarkan kursi roda yang ditawarkan salah satu muhsinin. Tapi, Yanti begitu takut mendengar nama kursi roda, ia kira sama seperti motor, karena motor sangat ia takuti.

Kami mencoba berbicara dengan lembut. Memberikan motivasi. Membangkitkan jiwanya. Menumbuhkan kepercayaan dirinya.

Sambil menangis, Yanti tertati-tati berusaha tuk bangkit dan mendekati motor kami kemudian berusaha menaikinya.

Kenapa?

Ia ingin mencoa sebelum mencoba kursi roda yang tak pernah ia kenal. Sambil menangis ia naiki motor itu yang dibantu sang ibu dan pak Tri, dan bukan cuma menangis, tapi juga kencing bau yang tadinya tak pernah kencing dan kalau kencing harus menggunakan selang.

Kupelajari juga dari situ, orang sakit, tak hanya diberikan obat penyakitnya, tapi harus juga membangkitkan jiwanya. Membangkitkan semangatnya. Bangun rohaninya. Kuatkan mentalnta.

Yanti, adalah seorang anak cacat dari kecil dan semua orang enggan berbincang dengannya kecuali sang ibu. Hampir semua orang memandangnya dengan sebelah mata kecuali ibu yang memandanya dengan  utuh. Semua orang hampir menganggap ia hanyalah beban kecuali ibu yang menganggap kehadirannya adalah anugrah.

Hatinya hancur. Mentalnya rapuh. Jiwanya merana, karena kesalahan sebagian manusia yang berada di dekatnya; menganggap kehadirannya tak berarti.

Namun hari ini kusaksikan sendiri. Bagaimana dahsyatnya perkataan lembut. Bagaimana hebatnya motivasi, sampai membuat Yanti bertati dan kencing. Pada akhirnya ia mau dibelikan kursi roda.

Orang seperti Yanti tidak sendiri. Dan bahkan mungkin sekarang atau malah suatu saat keluarga kita yang seperti itu, dan jika memang seperti itu, paling tidak kita belajar dari mereka dan berusaha memberikan sentuhan lembut buat mereka, dengan doa kita, membantu mereka, membangkitkan jiwa mereka dan senyum di hadapan mereka.

Ingat! Mereka tak pernah meminta dan tak ada anjuran meminta, tapi ingat! Orang mulia akan memberi, dan kita dianjurkan untuk memberi, bukan meminta.

Irsun Badrun

Manyaran 16 Mei 2015

Selasa, 12 Mei 2015

Kamu Ada Saat Tiada

Terngiang-ngiang selalu dirimu dalam sanubariku. Senyummu selalu saja tampak jelas di kelopak mataku walau kamu begitu jauh dariku.

Kalau saja saat itu kamu hadir dengan kecantikanmu, rindu ini takkan pernah untukmu, tapi karena budi dan akhlakmu, kamu seakan menyihir sukmaku.

Wanita cantik begitu banyak, bahkan para pelacur begitu menggoda, tapi kecantikan itu tak pernah membuat jiwa bahagia, bahkan menjadikannnya makin jauh dari yang kuasa.

Kamu tahu apa yang membuat suami tanang nan bahagia? Coba sini baring di pangkuanku dan akan kubisikkan bahwa suami bahagia karena akhlak budi istri. Dan kamulah istri yang membuatku bahagia dengan itu.

Istri cantik pergi, maka masih banyak wanita cantik. Istri mulia pergi maka hendak ke mana kucari?  Susah!

Seperti itulah yang membuat kamu selalu ada walau di saat tiada, karena yang ada adalah cinta.

Irsun Badrun

Manyaran 12 Mei 2015

Senin, 11 Mei 2015

Kesederhanaan Dan Rasa

Kebahagiaan itu memiliki penafsiran yang berbeda, tergantung cara yang memandangnya. Namun bagiku, kebahagiaan begitu sangat sederhana, ya sangat sederhana.

Menikmati waktu senja dengan sepotong terang bulan di penghujung desa bersama  bidadari adalah sesuatu yang sangat berarti. Sederhana bukan?

Di sana kita berbincang masalah rasa. Rasa yang dimulai dengan kesederhanaan yang menuntut jiwa nerimo semua rasa yang bergejolak di tengah samudra pasutri.

Sangat sederhana menyulam rasa yang kian renggang di atas hamparan sawah di bawang kolong langit dan di penghujung senja.

Sang mentari pun tersenyum dengan kesederhanaan kita. Mentari selalu berdoa kepada Allah untuk kita, pasalnya, masih mengeratkan rasa dengan kesederhanaan yang ada.

Kesederhanaan ini menjadikan iblis menangis pilu. Mereka kira dengan keterbatasan mampu menggoyahkan rasa kita, ternyata tidak!

Namun yang kutakutkan, jika kesederhanaan ini berubah menjadi kemewahaan, masih mampukah kita mengeratkan rasa? Wallahu a'lam. Maka bersyukurlah dengan kesederhanaan, karena mungkin itu sebab kita masih bersama.

Irsun Badrun

Masaran 11 Mei 2015

Anyaman Tas Sederhana

Mungkin kamu pernah melihat atau malah menggunakan anyaman tas yang biasa digunakan untuk membeli barang di pasar.

Tas yang biasa di jual puluhan ribu di luar jawa ini, akan anda dapatkan hanya beberapa ribu di tanah jawa khususnya Sragen.

Kalau di tempat kamu ada anyaman tas seperti ini, maka di Sragen juga ada dengan kisaran harga 6rb sampai 7rb rupiah.

Untuk bisa membuat anyaman seperti ini, kamu cukup datang ke Sragen Kec. Masaran Desa Pilangbangu. Atau kamu bisa brosing sendiri.

Semoga beanfaat.

Irsun Badrun

Masaran 11 Mei 2015

Jumat, 08 Mei 2015

Sebab Kumemilihmu Sebagai Teman

Tanaman yang subur, adalah tanaman yang berada di atas tanah yang subur. Seperti itu juga daku; bagaimana bisa menjadi baik dan mengenal yang baik kalau kuberada di antara orang-orang yang tak baik dan menganggap itu sesuatu yang lumrah?

Lafaz tahmid selalu bersenandung sebagai bukti rasa syukur atas karunia Allah yang selalu menempatkan daku dekat dengan orang-orang sholeh.

Di antara sebab mereka, selalu memercikkan cahaya iman, ketewaduan, kebebasan hakiki tuk daku. Mereka ibarat elektrik yang selalu memberikan semangat bagi daku. Mereka mengajarkan arti bahagia yang tak semu. Mereka bak alarm pengingat daku.

Temukan bahagia dalam sujudmu.

Kumelihat sendiri gerakan sholat temanku. Kulihat sendiri sujudnya. Dengan tuma'ninah dan penuh rasa rendah diri di hadapan Allah ia menemukan kebahagiaan hakiki di sana, ia tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

Terima kasih teman. Kamu telah memberikan warna di dalam hidupku. Setidaknya sujudmu menjadi salah satu jawabanku di hadapan Allah, mengapa kumemilihmu sebagai teman.

Irsun Badrun

Ma'had Ukhuwah Sukoharja 08 Mei 2015

Selasa, 19 Mei 2015

Suara Hati Untuk Muslim Rohingya





Duhai yang masih mempunyai hati. Duhai yang masih bangga Islam sebagai agamanya. Tidakkah kamu melihat saudaramu dari Rohingya?




Coba lihat, persis sepertimu; sama-sama manusia. Lebih dari itu, mereka adalah saudaramu, saudara yang diikat dengan Islam.




Mereka tak pernah berharap kamu berada pada posisi mereka, tapi mereka sangat berharap kamu datang mengelus lembut tangan mereka.




Mereka adalah cobaan buatmu,  apakah kamu benar-benar Islam peduli?



Coba kamu lihat rambut mereka, dan mulailah hitung, sudah berapa lama mereka tak menggunaka shampo.




Coba kamu lihat kulitmu, jika kulitmu hitam berminyak karena menikmati pekerjaan, maka kulit mereka hitam berminyak karena keterasingan.




Coba kamu mendekat pada mereka, dan mulailah meraba pada perut mereka, kira-kira sudah berapa lama mereka harus menahan lapar. Apakah satu minggu, dua minggu atau bahkan berbulan-bulan?




Coba lihat pada baju mereka, apakah kamu akan menemukan tumpukan pakaian bersih? Ataukah kamu hanya menemukan pakaian kusut yang tak layak pakai?




Dan yang paling penting, coba kamu tatap dengan lembut pada kelopak mata mereka, sudah berapa banyak air mata tumpah, sudah berapa banyak air mata mengering. Siang malam, suara tangisan ibu-ibu dan anak-anak  tak dapat dibendung.




Sini, kita sama-sama bergandengan tangan. Sini, kita ulurkan sedikit senyum kita. Sini, kita tuangkan sedikit kopi untuk mereka. Ayo mari, mereka adalah saudara kita. Mereka adalah sahabat kita. Sini, kita bangun ukhuwah islamiah yang mengesampingkan nasionalisme Negara yang hanya membuat ukhuwah kita terkotak-kotak oleh sebuah kata, “Nasionalisme.”




Ya Allah, di sana mereka menangis kelaparan dan keterasingan, di sini kita menangis karena sedih nan pilu karena keadaan mereka.




Akhukum al-faqiir Ilallah
Irsun Badrun
Sragen 19 Mei 2015


Senin, 18 Mei 2015

Al-Qur'an Akan Dirubah Karena Akan Disesuaikan Dengan Budaya Nusantara

Dengan alasan melestarikan budaya lokal Nusantara, al-Qur'an dilagukan dengan Langgam Jawa.

Begitu konyol alasannya dan begitu hina pemahamannya, mereka jadikan al-Qur'an seakan di pantat mereka; al-Qur'an disesuaikan dengan budaya.

Ketika al-Qur'an diturunkan sebagai wahyu pada Muhammad, saat itu orang Arab punya budaya menyanyi, tapi lantunan al-Qur'an tidak disesuaikan dengan budaya nyanyi mereka, karena al-Qur'an kalamullah.

Al-Qur'an murni kalamullah, diturunkan pada Muhammad, dan diajarkan oleh Muhammad, dan semua pengikutnya diwajibkan membacanya dengan lahjah Arab.

Al-Qur'an datang bukan untuk menyesuaikan dengan budaya, tapi al-Qur'an datang untuk sebagai furqan; menjelekkan budaya yang jelek dan mengokohkan budaya yang baik.

Dangdut adalah budaya nusantara, apakah karena kebodohan kalian al-Qur'an akan didangdutkan juga? Mikir!

Al-Qur'an adalah kitap petunjuk, buka kitab mainan yang bisa kamu rubah sesukamu.

Hari ini kamu berpaling dari lahjah Arab yang diajarkan Rasulullah, maka ditakutkan suatu saat kamu berpaling dari al-Qur'an bahkan merubah maknanya hanya karena alasan melestarikan budaya Nusantara. Keterlaluan!

Kalau agama kamu sekuler dan liberal, bersyahadatlah dengan syahadat sekuler dan Liberal.

Perlahan-lahan, sepertinya Allah ingin menampakkan kebobrokan kalian dalam beragama.

Walau kalian pandai menipu orang, tapi Allah selamanya tak bisa ditipu, camkan itu!

Irsun Badrun

Sragen 18 Mei 2015

Jumat, 15 Mei 2015

Belajar Dari Yanti Dan Ibunya

Terlihat begitu susah, tapi mereka mengajariku, bahwa untuk senyum tak harus mewah.

Hidup mereka terlihat begitu berantakan secara visual. Pakaian acak-acakan. Rumah gubuk hampir rapuh. Prabot rumah punah, tapi mereka mengajariku, bahwa untuk tetap setia dan saling kasih tak harus hidup wah.

Orang yang hidup di samudra dengan berbagai terpaan badai membuat mereka saling berpegang erat, mungkin hampir seperti itu Yanti dan ibunya, walau keadaan begitu memojokkan mereka tapi mereka masih saling merangkul.

Listrik tak punya. Hidup sebatang kara. Umur tak lagi muda. Menghabiskan hari-hari hanya di rumah. Tak ada lagi cita-cita untuk masa depan yang cerah. Yang ada hanya bagaimana bisa tetap bersama dan menunggu waktu kematian itu tiba.

Uluran tangan tak pernah mereka harapkan, karena mereka tak pernah meminta. Belas kasihan orang tak pernah mereka cari, karena mereka tak pernah memohon. Dan disitulah kubelajar arti ketegaran walau keadaan sesulit apapun.

Ketika aku dan pak Tri mendatangi mereka pada 13 Mei 2015 kemarin. Mendapati Yanti sedang duduk di atas tanah di depan pintu, sedangkan sang ibu mencoba mencabuti rumput liar di depan rumah.

"Yanti udah tak kencing lima hari. Belum lagi ke ibu bidang. Makan pun tak. Sepertinya sariawan dan batuk." Tutur ibu ketika kami bertanya tentang kabar tentang Yanti.

Kami coba tawarkan kursi roda yang ditawarkan salah satu muhsinin. Tapi, Yanti begitu takut mendengar nama kursi roda, ia kira sama seperti motor, karena motor sangat ia takuti.

Kami mencoba berbicara dengan lembut. Memberikan motivasi. Membangkitkan jiwanya. Menumbuhkan kepercayaan dirinya.

Sambil menangis, Yanti tertati-tati berusaha tuk bangkit dan mendekati motor kami kemudian berusaha menaikinya.

Kenapa?

Ia ingin mencoa sebelum mencoba kursi roda yang tak pernah ia kenal. Sambil menangis ia naiki motor itu yang dibantu sang ibu dan pak Tri, dan bukan cuma menangis, tapi juga kencing bau yang tadinya tak pernah kencing dan kalau kencing harus menggunakan selang.

Kupelajari juga dari situ, orang sakit, tak hanya diberikan obat penyakitnya, tapi harus juga membangkitkan jiwanya. Membangkitkan semangatnya. Bangun rohaninya. Kuatkan mentalnta.

Yanti, adalah seorang anak cacat dari kecil dan semua orang enggan berbincang dengannya kecuali sang ibu. Hampir semua orang memandangnya dengan sebelah mata kecuali ibu yang memandanya dengan  utuh. Semua orang hampir menganggap ia hanyalah beban kecuali ibu yang menganggap kehadirannya adalah anugrah.

Hatinya hancur. Mentalnya rapuh. Jiwanya merana, karena kesalahan sebagian manusia yang berada di dekatnya; menganggap kehadirannya tak berarti.

Namun hari ini kusaksikan sendiri. Bagaimana dahsyatnya perkataan lembut. Bagaimana hebatnya motivasi, sampai membuat Yanti bertati dan kencing. Pada akhirnya ia mau dibelikan kursi roda.

Orang seperti Yanti tidak sendiri. Dan bahkan mungkin sekarang atau malah suatu saat keluarga kita yang seperti itu, dan jika memang seperti itu, paling tidak kita belajar dari mereka dan berusaha memberikan sentuhan lembut buat mereka, dengan doa kita, membantu mereka, membangkitkan jiwa mereka dan senyum di hadapan mereka.

Ingat! Mereka tak pernah meminta dan tak ada anjuran meminta, tapi ingat! Orang mulia akan memberi, dan kita dianjurkan untuk memberi, bukan meminta.

Irsun Badrun

Manyaran 16 Mei 2015

Selasa, 12 Mei 2015

Kamu Ada Saat Tiada

Terngiang-ngiang selalu dirimu dalam sanubariku. Senyummu selalu saja tampak jelas di kelopak mataku walau kamu begitu jauh dariku.

Kalau saja saat itu kamu hadir dengan kecantikanmu, rindu ini takkan pernah untukmu, tapi karena budi dan akhlakmu, kamu seakan menyihir sukmaku.

Wanita cantik begitu banyak, bahkan para pelacur begitu menggoda, tapi kecantikan itu tak pernah membuat jiwa bahagia, bahkan menjadikannnya makin jauh dari yang kuasa.

Kamu tahu apa yang membuat suami tanang nan bahagia? Coba sini baring di pangkuanku dan akan kubisikkan bahwa suami bahagia karena akhlak budi istri. Dan kamulah istri yang membuatku bahagia dengan itu.

Istri cantik pergi, maka masih banyak wanita cantik. Istri mulia pergi maka hendak ke mana kucari?  Susah!

Seperti itulah yang membuat kamu selalu ada walau di saat tiada, karena yang ada adalah cinta.

Irsun Badrun

Manyaran 12 Mei 2015

Senin, 11 Mei 2015

Kesederhanaan Dan Rasa

Kebahagiaan itu memiliki penafsiran yang berbeda, tergantung cara yang memandangnya. Namun bagiku, kebahagiaan begitu sangat sederhana, ya sangat sederhana.

Menikmati waktu senja dengan sepotong terang bulan di penghujung desa bersama  bidadari adalah sesuatu yang sangat berarti. Sederhana bukan?

Di sana kita berbincang masalah rasa. Rasa yang dimulai dengan kesederhanaan yang menuntut jiwa nerimo semua rasa yang bergejolak di tengah samudra pasutri.

Sangat sederhana menyulam rasa yang kian renggang di atas hamparan sawah di bawang kolong langit dan di penghujung senja.

Sang mentari pun tersenyum dengan kesederhanaan kita. Mentari selalu berdoa kepada Allah untuk kita, pasalnya, masih mengeratkan rasa dengan kesederhanaan yang ada.

Kesederhanaan ini menjadikan iblis menangis pilu. Mereka kira dengan keterbatasan mampu menggoyahkan rasa kita, ternyata tidak!

Namun yang kutakutkan, jika kesederhanaan ini berubah menjadi kemewahaan, masih mampukah kita mengeratkan rasa? Wallahu a'lam. Maka bersyukurlah dengan kesederhanaan, karena mungkin itu sebab kita masih bersama.

Irsun Badrun

Masaran 11 Mei 2015

Anyaman Tas Sederhana

Mungkin kamu pernah melihat atau malah menggunakan anyaman tas yang biasa digunakan untuk membeli barang di pasar.

Tas yang biasa di jual puluhan ribu di luar jawa ini, akan anda dapatkan hanya beberapa ribu di tanah jawa khususnya Sragen.

Kalau di tempat kamu ada anyaman tas seperti ini, maka di Sragen juga ada dengan kisaran harga 6rb sampai 7rb rupiah.

Untuk bisa membuat anyaman seperti ini, kamu cukup datang ke Sragen Kec. Masaran Desa Pilangbangu. Atau kamu bisa brosing sendiri.

Semoga beanfaat.

Irsun Badrun

Masaran 11 Mei 2015

Jumat, 08 Mei 2015

Sebab Kumemilihmu Sebagai Teman

Tanaman yang subur, adalah tanaman yang berada di atas tanah yang subur. Seperti itu juga daku; bagaimana bisa menjadi baik dan mengenal yang baik kalau kuberada di antara orang-orang yang tak baik dan menganggap itu sesuatu yang lumrah?

Lafaz tahmid selalu bersenandung sebagai bukti rasa syukur atas karunia Allah yang selalu menempatkan daku dekat dengan orang-orang sholeh.

Di antara sebab mereka, selalu memercikkan cahaya iman, ketewaduan, kebebasan hakiki tuk daku. Mereka ibarat elektrik yang selalu memberikan semangat bagi daku. Mereka mengajarkan arti bahagia yang tak semu. Mereka bak alarm pengingat daku.

Temukan bahagia dalam sujudmu.

Kumelihat sendiri gerakan sholat temanku. Kulihat sendiri sujudnya. Dengan tuma'ninah dan penuh rasa rendah diri di hadapan Allah ia menemukan kebahagiaan hakiki di sana, ia tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

Terima kasih teman. Kamu telah memberikan warna di dalam hidupku. Setidaknya sujudmu menjadi salah satu jawabanku di hadapan Allah, mengapa kumemilihmu sebagai teman.

Irsun Badrun

Ma'had Ukhuwah Sukoharja 08 Mei 2015