Senin, 05 Mei 2014

Sang Wanita Terbaik


Kata ‘Humairah’ sangatlah familiar di telinga manusia, dengan mendengarnya, orang bisa menebak ia adalah engkau bernama Aisyah Ummul Mukminin, anak dari seorang pria yang luhur akhlaknya, anak dari seorang sahabat dekat Rasulullah, dan anak dari seorang Khalifah pertama Abu Bakar Asshiddiq.

Sungguh engkau wanita yang tumbuh dalam rumah iman penuh kemuliaan. Ayahmu orang yang pertama menerima Islam dan ibumu juga menerima Islam tidak lama setelah Abu Bakar dan berhijrah ke Madinah. Sungguh, engkau tumbuh dari keluarga yang terhormat, dan memiliki kedudukan yang mulia di sisi Raulullah. Radhiallahu Ankum.

Masamu penuh kebaikan, dari tangan seorang sahabat yang mulia, engkau berpindah ke tangan seorang Rasul yang Agung. Sungguh engkau hasil didikan dua orang manusia yang sangat mulia, setelah ayahmu dan kemudian kamu dididik langsung oleh Rasulmu sekaligus suamimu. Sungguh dalam perkembanganmu, mengajarkan hakikat dari pendidikan buatku dan buat seluruh kaum muslim, bahwa tuk menghasilkan anak yang cerdas, dimulainya dari masa kecil sehingga tidaklah aneh, jika engkaulah istri Rasulullah yang paling cerdas dang paling banyak meriwayatkan hadits yang berjumlah dua ribu seratus sepuluh.

Kalau orang bertanya-tanya, akan kelebihan dan keutamaan lelaki dari umat ini, maka mungkin aku bingung menjawabnya karena betapa banyaknya mereka, namun, jika orang bertanya akan kesempurnaan dan kelebihan wanita dari umat ini, maka aku tidak memiliki jawaban selain dirimu.

Ibuku dan ibu-ibu orang-orang yang beriman, engkaulah penyejuk mata Rasulullah, rumahmulah pilihan akhir hayat Rasulullah, dalam dekapanmulah kembalinya Baginda Rasulullah, dan ludahmulah yang bersatu membentuk gizi yang berarti dengan ludah Rasulullah di akhir detik-detik kehidupan beliau.

Engkau hancurkan siwak dengan gigimu yang mulia, engkau tatap beliau dengan tatap cinta dan penuh penghormatan, engkau dekap beliau dengan penuh kelembutan dan di sisimulah beliau pergi meninggalkan umat ini. Allahumma Sholli Wasallim ‘Ala Muhammad wa’ala Aalihi Wasahbihi Ajma’in.

Aku tidak peduli apa kata orang tentang pernikahan engkau dengan Baginda Rasulullah, yang jelas bagiku, Allah satukan hati itu dalam balutan cinta karena Allah. Aku tahu, engkau menjadi pilihan Allah tuk bersanding dengan Rasulullah, maka Rasulullah pun menikahimu, satu-satu istrinya yang perawan. Dan cukuplah engkau menjadi bantahan buat mereka yang mengatakan Rasulullah menuruti hawa nafsunya memiliki istri begitu banyak, karena buat apa Rasulullah memilih janda setelah Khadijah padahal Beliau telah memilikimu. Dan kalau memang Rasulullah hanya menuruti hawa nafsunya, mengapa Beliau tidak memilih perawan yang sekian banyak di zamanmu. 

Ibuku, dan ibu-ibu orang yang beriman, engkau dituduh dengang kejam, mereka melemparkan kepadamu tuduhan dusta. Aku ingin mengatakan kepada mereka yang menuduhmu, aku ingin katakan kepada mereka yang menghinamu, bahwa menghinamu adalah bentuk penghinaan kepada Nabiku Muhammad Sholllahu Alaehi Wassallam. Mengapa tidak, pada usiamu yang begitu muda, engkau tumbuh di dalam rumah nubuwah. Hanya beberapa tahun, ayahmu membesarkanmu, dan setelah itu engkau berpindah di tangan mulianya manusia, dan sekarang orang-orang berupa syiah dan kaum munafik dari manusia datang dan menuduhmu dengan hina. Maka sungguh kuingin katakan kepada mereka, bahwa mereka telah melecehkan Nabiku, mereka telah menghina Nabiku, secara tidak langsung mereka ingin mengatakan bahwa Rasulullah tidak becus mendidik seseorang, Rasulullah gagal membentuk dirimu menjadi manusia mulia. Oh wahai Aisyah Ummul Mukminin, engkaulah yang banyak mengajari kami adab dalam rumah tangga dengan riwayat-riwayatmu.

Sejarah pahitmu yang datang mendera, tidak akan pernah dilupa oleh lembaran sejarah. Engkau difitnah oleh dedengkot munafiq. Ya, dedengkot munafiq yang bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Engkau menjadi mangsa empuk tuk membuat kekacauan di tubuh kaum msulimin saat itu, maka cukuplah perang Bani Musthaliq menjadi saksi bisu. Mereka mengatakan engkau telah melakukan yang tidak senono. Ya, aku sadari, semua itu terjadi karena sudah berada dalam skenarionya Allah, yang hendak menelanjangi kaum munafiq Madinah. 

Aku salut denganmu, walau kabar fitnah telah tersebar luas, dan air matamu tumpah berderai dua malam satu hari, dan seakan dirimu tidak lagi mendapatkan jalan tuk mematahkan fitnah itu, tapi dengan kokohnya aqidahmu, engkau menaruh semua harapmu kepada Allah, dan engkau pun katakan kepada Baginda Rasulullah dengan perkataan Ayah Yusuf Alaehissalam dalam firman Rabmu yang artinya “Maka kesabaran yang baik itulah kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kalian ceritakan.” Yusuf: 18.

Ya, engkau menaruh harap kepada Allah, karena itu adalah solusi jitu tuk menyingkap solusi yang lain, engkau bersabar, karena sabar adalah solusi sebelum solusi. Oh, betapa cerdas dirimu, kami salut denganmu darimulah dengan perantara Rabmu, kami banyak belajar akan agama yagn luhur ini.

Sungguh Allah tidak pernah berdusta dengan Janji-Nya, kesudahan yang baik bagi orang yang bersabar. Dan Allah tidak pernah membuat rugi orang yang menaruh harap kepada-Nya, karena balasan yang baik selalu menyertai orang yang menaruh harap kepada Allah, maka dengan segala Maha Rahman Allah, di saat itu juga, turun ayat yang menyingkap kebohongan fitnah itu, maka turunlah Surah Annur ayat sebelas.

Kini jika ada yang datang menghinamu dan memojokkanmu, maka mereka adalah keturunan si dedengkot munafiq Abdullah bin Ubay bin Salul. Dan kudengar, Syiahlah yagn menghinamu, semoga Allah menjelekkan Syiah sebagaimana Allah telah menjelekkan Abdullah bin Ubay bin Salul. Allahumma Aaamiin.

Kedermawananmu, telah melampau batas kedermawanan manusia, walau engkau dalam keadaan berpuasa, dan engkau tidak memiliki sesuatu tuk berbuka kecuali hanya roti kering, tapi dengan kedermawananmu, engkau berikan itu untuk si fakir, dan engkau lebih memilih berpuasa. Ya, aku harap sifat ini kan selalu mewarnai kehidupan keluargaku dan keluarga kaum muslimin semuanya.

Pertanyaan tuk diri ini, seberapa cintakah diri ini dengan generasa sahabiah? 

Irsun Badrun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar