Rabu, 14 Mei 2014

Haruskah Kumengakhiri Semuanya?


Duri kehidupan itu sudah terlalu banyak menusuk dan menyiksan diriku. Ya, hampir di segala bidang kehidupan, di sana ada duri, ada gunung yang harus di lalui dan kemudian melihat jagat raya secara terbuka tanpa duri dan tanpa gunguh yang membatasi.

Kalau banyak duri-duri dan gunung-gunung yang bertebaran di garis kehidupan, maka apakah kuharus menghindari duri-duri itu? Kuharus menghindari gunung-gungung itu untuk menikmati indahnya pemandangan dari atas gunung? Ya, duri dan gunung penghalang, sesuatu yang mesti di kehidupan ini, maka jika kutak menghendaki duri itu, maka mungkin tak usah kuhidup di dunia ini.

Konflik, mungkin itu adalah salah satu duri kehidupan, salah satu gungung penghalang. Dan kurasa, semua manusia berpotensi mengalami konflik,  tak ada manusia yang hidup kecuali pernah mengalaminya. Dan semua itu, mungkin hanya ingin mengujiku, seberapa kuat dan bijaknya diriku tuk mengatasi konflik agar bisa menikmati alam bebas yang indah dari atas gungung.

Ah, sangat keterlaluan diriku, jika dihadapkan dengan sebuah konflik pada diri gara-gara tugas kampus, kemudian mengambil langkah untuk tidak mengerjakan tugas itu dan memutuskan untuk berhenti kuliah. Maka sungguh, betapa lemahnya cinta-cita hidupku, betapa lemahnya tujuan hidupku.

Konflik dalam keluarga pun demikian,  apakah gara-gara konflik spele dan kemudian mengambil keputusan untuk mengakhiri sebuah hubungan? Pertanyaannya, apakah perpisahan sebagai tujuan pernikahan? Ya, kurasa bukan itu, pernikahan adalah sebuah ibadah yang menjanjikan kebahagiaan yang dibangun atas dasar iman sehingga terwujudnay keluarga religius. Jika demikian, kenapa diri harus lebih fokus kepada konfliknya dan tidak melihat tujuan pernikahan yang begitu agung? 

Ya, singkatnya, ketika sebuah konflik melanda rumah tangga, maka masing-masing harus menyatukan kembali keinginan mereka, yaitu untuk sama-sama membangun keluarga yang bahagia, dan berusaha memperbaiki konflik-konflik itu, dan kemudian bisa menikmati indahnya sebuah pemandangan di atas gunung. Bukan menjadikan konflik sebagai cela untuk mengakhiri sebuah hubungan.

Dan ingat, Jadikanlah pasangan sebagai mitra untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup, bukan sebagai penghalang untuk mencapai kebahagiaan itu.

Irsun Badrun
Darul Abrar 15 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar