Jumat, 15 Mei 2015

Belajar Dari Yanti Dan Ibunya

Terlihat begitu susah, tapi mereka mengajariku, bahwa untuk senyum tak harus mewah.

Hidup mereka terlihat begitu berantakan secara visual. Pakaian acak-acakan. Rumah gubuk hampir rapuh. Prabot rumah punah, tapi mereka mengajariku, bahwa untuk tetap setia dan saling kasih tak harus hidup wah.

Orang yang hidup di samudra dengan berbagai terpaan badai membuat mereka saling berpegang erat, mungkin hampir seperti itu Yanti dan ibunya, walau keadaan begitu memojokkan mereka tapi mereka masih saling merangkul.

Listrik tak punya. Hidup sebatang kara. Umur tak lagi muda. Menghabiskan hari-hari hanya di rumah. Tak ada lagi cita-cita untuk masa depan yang cerah. Yang ada hanya bagaimana bisa tetap bersama dan menunggu waktu kematian itu tiba.

Uluran tangan tak pernah mereka harapkan, karena mereka tak pernah meminta. Belas kasihan orang tak pernah mereka cari, karena mereka tak pernah memohon. Dan disitulah kubelajar arti ketegaran walau keadaan sesulit apapun.

Ketika aku dan pak Tri mendatangi mereka pada 13 Mei 2015 kemarin. Mendapati Yanti sedang duduk di atas tanah di depan pintu, sedangkan sang ibu mencoba mencabuti rumput liar di depan rumah.

"Yanti udah tak kencing lima hari. Belum lagi ke ibu bidang. Makan pun tak. Sepertinya sariawan dan batuk." Tutur ibu ketika kami bertanya tentang kabar tentang Yanti.

Kami coba tawarkan kursi roda yang ditawarkan salah satu muhsinin. Tapi, Yanti begitu takut mendengar nama kursi roda, ia kira sama seperti motor, karena motor sangat ia takuti.

Kami mencoba berbicara dengan lembut. Memberikan motivasi. Membangkitkan jiwanya. Menumbuhkan kepercayaan dirinya.

Sambil menangis, Yanti tertati-tati berusaha tuk bangkit dan mendekati motor kami kemudian berusaha menaikinya.

Kenapa?

Ia ingin mencoa sebelum mencoba kursi roda yang tak pernah ia kenal. Sambil menangis ia naiki motor itu yang dibantu sang ibu dan pak Tri, dan bukan cuma menangis, tapi juga kencing bau yang tadinya tak pernah kencing dan kalau kencing harus menggunakan selang.

Kupelajari juga dari situ, orang sakit, tak hanya diberikan obat penyakitnya, tapi harus juga membangkitkan jiwanya. Membangkitkan semangatnya. Bangun rohaninya. Kuatkan mentalnta.

Yanti, adalah seorang anak cacat dari kecil dan semua orang enggan berbincang dengannya kecuali sang ibu. Hampir semua orang memandangnya dengan sebelah mata kecuali ibu yang memandanya dengan  utuh. Semua orang hampir menganggap ia hanyalah beban kecuali ibu yang menganggap kehadirannya adalah anugrah.

Hatinya hancur. Mentalnya rapuh. Jiwanya merana, karena kesalahan sebagian manusia yang berada di dekatnya; menganggap kehadirannya tak berarti.

Namun hari ini kusaksikan sendiri. Bagaimana dahsyatnya perkataan lembut. Bagaimana hebatnya motivasi, sampai membuat Yanti bertati dan kencing. Pada akhirnya ia mau dibelikan kursi roda.

Orang seperti Yanti tidak sendiri. Dan bahkan mungkin sekarang atau malah suatu saat keluarga kita yang seperti itu, dan jika memang seperti itu, paling tidak kita belajar dari mereka dan berusaha memberikan sentuhan lembut buat mereka, dengan doa kita, membantu mereka, membangkitkan jiwa mereka dan senyum di hadapan mereka.

Ingat! Mereka tak pernah meminta dan tak ada anjuran meminta, tapi ingat! Orang mulia akan memberi, dan kita dianjurkan untuk memberi, bukan meminta.

Irsun Badrun

Manyaran 16 Mei 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar